Risk Appetite Adalah: Pengertian dan Manfaatnya

Apa itu risk appetite? Risk appetite sering kali dikaitkan dengan seberapa banyak risiko yang siap Anda ambil untuk tujuan investasi tertentu. Misalnya, jika Anda ingin berinvestasi untuk meningkatkan nilai investasi jangka panjang Anda, maka Anda mungkin akan siap untuk mengambil risiko yang lebih tinggi daripada jika Anda hanya ingin mengurangi tingkat kerugian pada investasi jangka pendek Anda.

Risk appetite adalah seberapa besar sebuah perusahaan dapat mengambil resiko. Dengan kata lain, risk appetite berhubungan dengan seberapa besar sebuah perusahaan menginginkan keuntungan.

Semakin besar risk appetite perusahaan, maka perusahaan tersebut semakin berani mengambil resiko demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Risk appetite dapat ditentukan berdasarkan faktor-faktor seperti tujuan finansial, alokasi aset, batasan risiko, dan toleransi terhadap resiko. Risk appetite sering digunakan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan bisnis dan investasi.

Risiko ini juga berpengaruh terhadap strategi perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan. Oleh karena itu, risk appetite perusahaan haruslah seimbang, agar perusahaan dapat dengan baik dalam mengambil resiko dan mendapatkan keuntungan.

Manfaat Risk Appetite Bagi Perusahaan

Risiko selalu berhubungan dengan potensi kerugian, namun para pembuat keputusan bisnis selalu menghadapi risiko setiap hari. Kebanyakan orang menganggap bahwa mengurangi risiko adalah tujuan utama dalam pengelolaan risiko, namun sebenarnya ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari mengambil risiko.

Yang paling utama, dengan mengambil risiko, perusahaan dapat memperoleh peluang untuk mendapatkan keuntungan. Oleh karena itu, perlu bagi perusahaan untuk menentukan seberapa besar risiko yang dapat diterima atau disebut sebagai “appetite” untuk risiko.

Risiko Appetite yang dimaksud adalah batasan yang ditetapkan perusahaan untuk diri mereka sendiri dalam mengambil risiko. Oleh karena itu, sebelum mengambil risiko, perusahaan perlu menentukan terlebih dahulu seberapa besar risiko yang dapat diterima.

Perusahaan dapat menentukan appetite risikonya dengan mempertimbangkan beberapa faktor, seperti tujuan perusahaan, ancaman dan peluang yang ada, serta kondisi keuangan perusahaan. Setelah menentukan appetite risiko, perusahaan perlu mengukur seberapa besar risiko yang sebenarnya akan diambil. Pengukuran risiko ini disebut dengan “risk tolerance”.

Baca:  Surplus Konsumen: Definisi, Rumus dan Contohnya

Risk tolerance adalah derajat risiko yang dapat diterima oleh perusahaan dalam mengambil suatu keputusan. Risk tolerance perusahaan akan berbeda-beda, tergantung dari beberapa faktor, seperti tujuan perusahaan, ancaman dan peluang yang ada, serta kondisi keuangan perusahaan.

Dari sinilah, perusahaan dapat menentukan seberapa besar risiko yang dapat diterimanya, yaitu dengan menentukan risk appetite dan risk tolerance perusahaan. Dengan mengetahui kedua hal ini, perusahaan dapat lebih baik dalam mengambil risiko, sehingga akan memperoleh peluang untuk mendapatkan keuntungan.

Cara Menentukan Risk Appetite untuk Perusahaan

1. Tujuan finansial

Perusahaan harus menentukan tujuan finansialnya sebelum menentukannya. Sebuah perusahaan yang ingin meraih pertumbuhan cenderung mempunyai risiko yang lebih tinggi daripada perusahaan yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang stabil.

2. Alokasi aset

Perusahaan juga perlu mempertimbangkan alokasi asetnya ketika menentukan risiko. Misalnya, perusahaan dengan alokasi aset yang lebih tinggi pada obligasi akan mempunyai risiko appetite yang lebih rendah daripada perusahaan dengan alokasi aset yang lebih tinggi pada saham.

3. Batasan risiko

Setiap perusahaan mempunyai batas risiko tertentu yang tidak boleh melebihi. Ini dapat berupa batas kerugian tertentu yang dapat ditanggung perusahaan atau batas eksposur terhadap suatu risiko tertentu. Jika batasan risiko perusahaan telah tercapai, maka perusahaan harus segera mengurangi atau menghindari risiko tersebut.

4. Toleransi terhadap resiko

Toleransi terhadap resiko juga perlu dipertimbangkan ketika menentukan risk appetite. Perusahaan yang mampu menanggung resiko yang lebih tinggi akan mempunyai risk appetite yang lebih tinggi.

Cara Memanfaatkan Risk Appetite dalam Pengambilan Keputusan

Risk appetite dapat digunakan dalam berbagai macam aspek keputusan perusahaan, seperti dalam pengambilan keputusan investasi, pengambilan keputusan operasional, dan pengambilan keputusan strategis. Untuk menentukan risk appetite, perusahaan atau individu perlu menganalisis tujuan finansial, alokasi aset, batasan risiko, dan toleransi terhadap resiko.

Baca:  Mark to Market Adalah: Definisi dan Konsep

Contoh Studi Kasus Penerapan Risk Appetite

Studi kasus penerapan risk appetite dalam perusahaan sangat penting dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. Sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan kinerja perusahaan, risiko appetite dapat diterapkan sebagai salah satu pendekatan yang tepat. Risiko ini sendiri dapat diartikan sebagai sebuah konsep yang mengacu pada seberapa besar suatu perusahaan atau organisasi siap untuk mengambil risiko dalam rangka untuk mencapai tujuannya. Konsep ini memiliki beberapa komponen utama, yaitu:

  1. Tingkat keinginan untuk mengambil risiko
  2. Kebijakan risiko
  3. Tingkat tolaran terhadap risiko

Dalam studi kasus ini, akan dibahas bagaimana salah satu perusahaan, PT. Karya Abadi, menerapkan risk appetite dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. PT. Karya Abadi adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Selama bertahun-tahun, perusahaan ini selalu mengalami penurunan laba bersih. Oleh karena itu, pada tahun 2016, perusahaan ini melakukan perubahan strategis dengan menerapkan risiko.

Tujuan dari penerapan risk appetite adalah untuk membantu perusahaan dalam menentukan seberapa besar risiko yang siap diambil oleh perusahaan untuk mencapai tujuan tertentu. PT. Karya Abadi memiliki tujuan untuk meningkatkan laba bersih sebesar 10% pada tahun 2017. Untuk mencapai tujuan ini, perusahaan harus mengambil risiko seperti investasi di sektor baru atau dengan meningkatkan produksi.

Dari kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa risk appetite dapat menjadi solusi yang tepat untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Selain itu, risiko ini juga dapat membantu perusahaan dalam menentukan seberapa besar risiko yang siap diambil oleh perusahaan untuk mencapai tujuan tertentu.

Kesimpulan

Risk appetite dapat digunakan dalam berbagai macam aspek keputusan perusahaan, seperti dalam pengambilan keputusan investasi, pengambilan keputusan operasional, dan pengambilan keputusan strategis.